 |
| Dari Desa untuk Pasar Ekspor! Wabup Sukabumi Dorong Budidaya Melon Diperluas ke Desa Lain. (Sumber Foto: Muhammad Fikri Fauzi). |
SMartnewsroom.com || SUKABUMI - Inovasi budidaya melon berbasis
greenhouse yang dikembangkan BUMDesa Tenjoayu Sukses Mandiri, Desa Tenjoayu,
Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, mendapat perhatian Wakil Bupati
Sukabumi, H. Andreas.
Ia menilai pengembangan usaha tersebut menjadi contoh pemanfaatan potensi
desa yang mampu menghasilkan nilai ekonomi sekaligus membuka peluang
pengembangan usaha pertanian secara lebih luas.
Menurut Andreas, keberhasilan sebuah desa tidak hanya dilihat dari
pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan pemerintah desa dalam
mengelola potensi dan membangun unit usaha produktif yang memberikan manfaat
bagi masyarakat.
"Ini menjadi kebanggaan kita semua. Tumbuh kembang sebuah desa bisa
dilihat dari bagaimana manajemen di desanya. Bukan hanya dari kegiatan
pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana desa mampu mengembangkan usaha yang
maju dan produktif," ungkap H. Andreas.
Ia menyebut BUMDesa Tenjoayu mampu menunjukkan inovasi dalam mengelola
keterbatasan lahan menjadi peluang usaha bernilai ekonomi. Bahkan, model
budidaya tersebut dinilai berpotensi diterapkan di desa-desa lain dengan
menyesuaikan ketersediaan lahan dan kemampuan pengelola.
Andreas pun mendorong agar keberhasilan tersebut tidak berhenti pada satu
desa. Menurutnya, Tenjoayu dapat dikembangkan sebagai desa percontohan atau pilot
project budidaya melon melalui kerja sama antardesa.
"Ini luar biasa dan harus kita apresiasi serta dukung. Bahkan, ini bisa
menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kecamatan Cicurug," tegasnya.
Lebih jauh, ia melihat peluang pasar melon yang masih terbuka dapat menjadi
dasar pengembangan produksi secara bersama. Apabila sejumlah desa ikut
terlibat, kapasitas produksi dapat ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pasar
yang lebih besar, termasuk peluang pasar ekspor.
"Kalau kebutuhan ekspor minimal 20 ton, tentu ini menjadi peluang. Desa
lain yang memiliki lahan bisa bekerja sama. Tenjoayu memiliki pengalaman dan
ilmunya, sementara desa lain bisa berkontribusi dalam penyediaan lahan maupun
permodalan," jelasnya.
Andreas juga memiliki gagasan agar budidaya melon dapat berkembang menjadi
identitas ekonomi sekaligus daya tarik wisata Kecamatan Cicurug.
"Ke depan bukan tidak mungkin Cicurug dikenal dengan Cicurug Melon.
Bahkan bisa menjadi salah satu ikon wisata di Kabupaten Sukabumi. Ketika panen,
masyarakat bisa mengetahui melalui media sosial sehingga aktivitas tersebut
turut menggerakkan ekonomi lokal," tambahnya.
Dua Greenhouse Mampu Produksi Sekitar 2 Ton Melon
Sementara itu, Ketua BUMDesa Tenjoayu Sukses Mandiri, Angga Purnama,
menjelaskan bahwa usaha budidaya melon tersebut dikembangkan melalui dua unit
greenhouse dengan total luas bangunan sekitar 600 meter persegi.
Masing-masing greenhouse memiliki luas sekitar 300 meter persegi dengan
kapasitas kurang lebih 600 tanaman melon.
Dalam proses budidaya, pengelola mengembangkan dua varietas melon, yakni
Lavender asal Vietnam dan Dimension. Setelah melakukan evaluasi terhadap hasil
panen pertama, pengelola melakukan sejumlah perbaikan, terutama dalam perawatan
tanaman dan pengendalian hama.
Hasilnya, produksi pada periode panen kedua menunjukkan perkembangan
positif. Melon varietas Lavender mampu mencapai bobot sekitar 2,5 kilogram per
buah, sedangkan varietas Dimension sekitar 1,5 kilogram.
"Hasil panen kedua alhamdulillah lebih baik. Melon Lavender sekarang
bisa mencapai bobot sekitar 2,5 kilogram, sedangkan Dimension sekitar 1,5
kilogram. Untuk pendapatan, kami menargetkan sekitar Rp35 juta dengan biaya
tetap yang relatif sama setiap bulannya," ungkap Angga.
Ia menjelaskan, pada panen pertama BUMDesa memperoleh pendapatan sekitar
Rp30 juta. Namun, saat itu pengelola masih menghadapi kendala serangan hama
yang memengaruhi hasil produksi.
Pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas
pengelolaan, termasuk menambah tenaga kerja agar perawatan tanaman lebih
optimal.
Bidik Pasar Ekspor, Terkendala Keterbatasan Modal
Meski menunjukkan perkembangan, Angga mengakui pengembangan usaha masih
menghadapi tantangan, terutama keterbatasan modal untuk menambah fasilitas
greenhouse.
Saat ini, dua unit greenhouse diperkirakan mampu menghasilkan sekitar dua
ton melon dalam satu siklus panen. Sementara itu, peluang memenuhi kebutuhan
pasar ekspor yang diperkirakan mencapai minimal 20 ton membutuhkan peningkatan
kapasitas produksi.
Angga menyebutkan, pihaknya masih memiliki lahan desa yang berpotensi
dimanfaatkan untuk membangun satu greenhouse tambahan. Namun, realisasi rencana
tersebut masih bergantung pada ketersediaan pendanaan.
"Kami masih memiliki tanah desa yang berpotensi dibangun satu
greenhouse lagi. Namun, kendalanya ada pada pendanaan. Kami berharap ada
dukungan dari pemerintah kecamatan maupun pemerintah kabupaten, baik melalui
program pemberdayaan, aspirasi, maupun skema pendanaan lain yang sesuai
ketentuan," paparnya.
Menariknya, pada awal pengembangan usaha, hasil panen perdana tidak langsung
dipasarkan secara komersial. Pengelola memilih membagikan kebahagiaan hasil
panen bersama masyarakat melalui kegiatan pesta warga.
"Awalnya kami tidak langsung menjual ke pasar karena ingin menjadikan
hasil panen ini sebagai pesta warga. Alhamdulillah, dalam dua hari seluruh
melon habis," jelasnya.
Tenjoayu Berpeluang Jadi Percontohan Ekonomi Antardesa
Pengembangan budidaya melon BUMDesa Tenjoayu kini membuka peluang kolaborasi
ekonomi antardesa di Kecamatan Cicurug. Pengalaman pengelolaan, ketersediaan
lahan, serta dukungan permodalan dapat menjadi modal untuk membangun usaha
pertanian dengan kapasitas produksi lebih besar.
Namun, pengembangan tersebut tetap membutuhkan perencanaan bisnis yang
matang, penguatan sumber daya manusia, kepastian pasar, serta pengelolaan
keuangan yang profesional.
Dengan dukungan dan kerja sama berbagai pihak, budidaya melon berbasis
greenhouse diharapkan tidak hanya berkembang sebagai unit usaha BUMDesa, tetapi
juga menjadi bagian dari penguatan ketahanan pangan, pengembangan agroindustri,
dan peningkatan kemandirian ekonomi masyarakat Kabupaten Sukabumi.
Reporter: Muhammad Fikri Fauzi
Redaktur: Muhammad Iqbal Abdillah