SmartNewsroom.com • Berita Cerdas, Perspektif Luas
Berita Cerdas, Perspektif Luas
BREAKING NEWSSmartNewsroom.com menyajikan informasi aktual, cepat dan terpercaya untuk Indonesia.
HEADLINE

Memuat berita utama SmartNewsroom...

Berita terbaru akan ditampilkan otomatis dari posting Blogger.

SmartNewsroom.com

BERITA TERKINI

BERITA

Memuat berita terbaru...

SmartNewsroom.com
BERITA

Memuat berita terbaru...

SmartNewsroom.com
BERITA

Memuat berita terbaru...

SmartNewsroom.com

PILIHAN EDITOR

LIHAT SEMUA →

BERITA TERBARU

Lihat Semua →

Selasa, 03 November 2026

Camat Cisolok Tekankan Sinergi Lintas Sektor Untuk Bangkitkan Kampung Adat Ciptamulya

 

Okih Pazri Assidiq Dorong Percepatan Pemulihan Kampung Adat Ciptamulya Pascakebakaran. (Sumber Foto: Muhammad Fikri Fauzi).

SMartnewsroom.com || SUKABUMI - Pemerintah Kabupaten Sukabumi terus mengakselerasi pemulihan kawasan Kampung Adat Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, pascakebakaran yang mengakibatkan puluhan rumah warga terdampak.

Percepatan pemulihan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi virtual antara Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sukabumi, H. Ade Suryaman, bersama Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI dari Pendopo Sukabumi, Selasa (3/11/2026).

Dalam rapat tersebut, Sekda H. Ade Suryaman memaparkan perkembangan pembangunan kembali rumah warga. Dari total 51 rumah yang terdampak, sebanyak 15 unit telah selesai dibangun, 34 unit masih dalam proses pengerjaan, dan dua unit lainnya belum mulai dibangun.

Menurutnya, pembangunan rumah warga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Sementara penataan lahan melalui pekerjaan cut and fill menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Sukabumi.

Selain pembangunan rumah, sejumlah fasilitas dasar juga telah tersedia, di antaranya MCK, sarana air bersih, serta gapura yang merupakan bantuan dari para donatur.

Meski demikian, masih terdapat sejumlah kebutuhan prioritas yang perlu segera dituntaskan. Di antaranya pembangunan 49 leuit atau lumbung padi adat, tempat ibadah, pengaspalan jalan lingkungan, serta tembok penahan tanah (TPT).

Tidak hanya infrastruktur, masyarakat juga membutuhkan fasilitas pendukung pelestarian adat dan budaya, seperti panggung seni, balai riung, serta perlengkapan kesenian tradisional.

Ade Suryaman mengatakan, Pemkab Sukabumi telah menyiapkan anggaran perubahan untuk pengadaan gamelan. Adapun kebutuhan fasilitas lainnya akan dikoordinasikan lebih lanjut bersama kementerian dan instansi terkait.

Ia berharap dukungan lintas sektor dapat mempercepat pemulihan kawasan terdampak, sehingga masyarakat tidak hanya kembali memiliki tempat tinggal yang layak, tetapi juga dapat menjalankan kehidupan sosial, keagamaan, dan adat budayanya seperti sediakala.

Sementara itu, Camat Cisolok, Okih Pazri Assidiq, menyampaikan bahwa proses pemulihan kawasan Kasepuhan Ciptamulya telah menunjukkan perkembangan positif, terutama melalui pembangunan kembali rumah warga dan penyediaan sejumlah sarana prasarana dasar.

Namun, menurutnya, masih diperlukan dukungan dan intervensi dari berbagai pihak untuk menuntaskan pembangunan rumah serta memulihkan fasilitas adat, sosial, budaya, keagamaan, dan infrastruktur lingkungan.

Okih menegaskan, sinergi antara pemerintah pusat, Pemerintah Kabupaten Sukabumi, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam mempercepat proses pemulihan.

"Melalui sinergitas dan komitmen bersama, kami berharap pemulihan kawasan Kasepuhan Ciptamulya dapat berjalan secara bertahap, terarah, dan berkelanjutan. Sehingga kehidupan masyarakat, termasuk tradisi dan budaya adat yang menjadi identitas kawasan tersebut, dapat kembali berjalan dengan baik," ujarnya.

Pemulihan Kampung Adat Ciptamulya diharapkan tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga mampu menjaga keberlangsungan nilai-nilai adat dan budaya masyarakat setempat sebagai bagian dari warisan budaya Kabupaten Sukabumi.

Reporter: Muhammad Fikri Fauzi

Redaktur: Muhammad Iqbal Abdillah


Minggu, 01 November 2026

Bidik Pasar Ekspor! Wabup Andreas Ungkap Siap Kembangkan Produksi Melon Peluang Besar!

 

Dari Desa untuk Pasar Ekspor! Wabup Sukabumi Dorong Budidaya Melon Diperluas ke Desa Lain. (Sumber Foto: Muhammad Fikri Fauzi).

SMartnewsroom.com || SUKABUMI - Inovasi budidaya melon berbasis greenhouse yang dikembangkan BUMDesa Tenjoayu Sukses Mandiri, Desa Tenjoayu, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, mendapat perhatian Wakil Bupati Sukabumi, H. Andreas.

Ia menilai pengembangan usaha tersebut menjadi contoh pemanfaatan potensi desa yang mampu menghasilkan nilai ekonomi sekaligus membuka peluang pengembangan usaha pertanian secara lebih luas.

Menurut Andreas, keberhasilan sebuah desa tidak hanya dilihat dari pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan pemerintah desa dalam mengelola potensi dan membangun unit usaha produktif yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Ini menjadi kebanggaan kita semua. Tumbuh kembang sebuah desa bisa dilihat dari bagaimana manajemen di desanya. Bukan hanya dari kegiatan pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana desa mampu mengembangkan usaha yang maju dan produktif," ungkap H. Andreas.

Ia menyebut BUMDesa Tenjoayu mampu menunjukkan inovasi dalam mengelola keterbatasan lahan menjadi peluang usaha bernilai ekonomi. Bahkan, model budidaya tersebut dinilai berpotensi diterapkan di desa-desa lain dengan menyesuaikan ketersediaan lahan dan kemampuan pengelola.

Andreas pun mendorong agar keberhasilan tersebut tidak berhenti pada satu desa. Menurutnya, Tenjoayu dapat dikembangkan sebagai desa percontohan atau pilot project budidaya melon melalui kerja sama antardesa.

"Ini luar biasa dan harus kita apresiasi serta dukung. Bahkan, ini bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kecamatan Cicurug," tegasnya.

Lebih jauh, ia melihat peluang pasar melon yang masih terbuka dapat menjadi dasar pengembangan produksi secara bersama. Apabila sejumlah desa ikut terlibat, kapasitas produksi dapat ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang lebih besar, termasuk peluang pasar ekspor.

"Kalau kebutuhan ekspor minimal 20 ton, tentu ini menjadi peluang. Desa lain yang memiliki lahan bisa bekerja sama. Tenjoayu memiliki pengalaman dan ilmunya, sementara desa lain bisa berkontribusi dalam penyediaan lahan maupun permodalan," jelasnya.

Andreas juga memiliki gagasan agar budidaya melon dapat berkembang menjadi identitas ekonomi sekaligus daya tarik wisata Kecamatan Cicurug.

"Ke depan bukan tidak mungkin Cicurug dikenal dengan Cicurug Melon. Bahkan bisa menjadi salah satu ikon wisata di Kabupaten Sukabumi. Ketika panen, masyarakat bisa mengetahui melalui media sosial sehingga aktivitas tersebut turut menggerakkan ekonomi lokal," tambahnya.

Dua Greenhouse Mampu Produksi Sekitar 2 Ton Melon

Sementara itu, Ketua BUMDesa Tenjoayu Sukses Mandiri, Angga Purnama, menjelaskan bahwa usaha budidaya melon tersebut dikembangkan melalui dua unit greenhouse dengan total luas bangunan sekitar 600 meter persegi.

Masing-masing greenhouse memiliki luas sekitar 300 meter persegi dengan kapasitas kurang lebih 600 tanaman melon.

Dalam proses budidaya, pengelola mengembangkan dua varietas melon, yakni Lavender asal Vietnam dan Dimension. Setelah melakukan evaluasi terhadap hasil panen pertama, pengelola melakukan sejumlah perbaikan, terutama dalam perawatan tanaman dan pengendalian hama.

Hasilnya, produksi pada periode panen kedua menunjukkan perkembangan positif. Melon varietas Lavender mampu mencapai bobot sekitar 2,5 kilogram per buah, sedangkan varietas Dimension sekitar 1,5 kilogram.

"Hasil panen kedua alhamdulillah lebih baik. Melon Lavender sekarang bisa mencapai bobot sekitar 2,5 kilogram, sedangkan Dimension sekitar 1,5 kilogram. Untuk pendapatan, kami menargetkan sekitar Rp35 juta dengan biaya tetap yang relatif sama setiap bulannya," ungkap Angga.

Ia menjelaskan, pada panen pertama BUMDesa memperoleh pendapatan sekitar Rp30 juta. Namun, saat itu pengelola masih menghadapi kendala serangan hama yang memengaruhi hasil produksi.

Pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pengelolaan, termasuk menambah tenaga kerja agar perawatan tanaman lebih optimal.

Bidik Pasar Ekspor, Terkendala Keterbatasan Modal

Meski menunjukkan perkembangan, Angga mengakui pengembangan usaha masih menghadapi tantangan, terutama keterbatasan modal untuk menambah fasilitas greenhouse.

Saat ini, dua unit greenhouse diperkirakan mampu menghasilkan sekitar dua ton melon dalam satu siklus panen. Sementara itu, peluang memenuhi kebutuhan pasar ekspor yang diperkirakan mencapai minimal 20 ton membutuhkan peningkatan kapasitas produksi.

Angga menyebutkan, pihaknya masih memiliki lahan desa yang berpotensi dimanfaatkan untuk membangun satu greenhouse tambahan. Namun, realisasi rencana tersebut masih bergantung pada ketersediaan pendanaan.

"Kami masih memiliki tanah desa yang berpotensi dibangun satu greenhouse lagi. Namun, kendalanya ada pada pendanaan. Kami berharap ada dukungan dari pemerintah kecamatan maupun pemerintah kabupaten, baik melalui program pemberdayaan, aspirasi, maupun skema pendanaan lain yang sesuai ketentuan," paparnya.

Menariknya, pada awal pengembangan usaha, hasil panen perdana tidak langsung dipasarkan secara komersial. Pengelola memilih membagikan kebahagiaan hasil panen bersama masyarakat melalui kegiatan pesta warga.

"Awalnya kami tidak langsung menjual ke pasar karena ingin menjadikan hasil panen ini sebagai pesta warga. Alhamdulillah, dalam dua hari seluruh melon habis," jelasnya.

Tenjoayu Berpeluang Jadi Percontohan Ekonomi Antardesa

Pengembangan budidaya melon BUMDesa Tenjoayu kini membuka peluang kolaborasi ekonomi antardesa di Kecamatan Cicurug. Pengalaman pengelolaan, ketersediaan lahan, serta dukungan permodalan dapat menjadi modal untuk membangun usaha pertanian dengan kapasitas produksi lebih besar.

Namun, pengembangan tersebut tetap membutuhkan perencanaan bisnis yang matang, penguatan sumber daya manusia, kepastian pasar, serta pengelolaan keuangan yang profesional.

Dengan dukungan dan kerja sama berbagai pihak, budidaya melon berbasis greenhouse diharapkan tidak hanya berkembang sebagai unit usaha BUMDesa, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan ketahanan pangan, pengembangan agroindustri, dan peningkatan kemandirian ekonomi masyarakat Kabupaten Sukabumi.

Reporter: Muhammad Fikri Fauzi

Redaktur: Muhammad Iqbal Abdillah


Panen Perdana Tembus 2 Ton, BUMDesa Tenjoayu Sukabumi Kembangkan Budidaya Melon Jadi Peluang Ekonomi Desa

 

BUMDesa Tenjoayu Bikin Gebrakan! Budidaya Melon Raup Hasil Panen Perdana Lebih dari 2 Ton. (Sumber Foto: Muhammad Fikri Fauzi).

SMartnewsroom.com || SUKABUMI - Inovasi pengembangan usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) Tenjoayu Sukses Mandiri, Desa Tenjoayu, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, mulai membuahkan hasil. Melalui budidaya buah melon, BUMDesa tersebut berhasil mencatatkan hasil panen perdana lebih dari 2 ton.

Keberhasilan ini menjadi langkah positif dalam mengoptimalkan potensi desa, khususnya sektor pertanian, sekaligus membuka peluang usaha produktif yang diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.

Camat Cicurug, Chaerul Ichwan, mengapresiasi terobosan yang dilakukan BUMDesa Tenjoayu Sukses Mandiri. Menurutnya, pengembangan budidaya melon tersebut menjadi contoh bagaimana potensi dan aset desa dapat dikelola menjadi kegiatan usaha yang memiliki nilai ekonomi.

"Alhamdulillah, di sini terdapat dua lokasi budidaya dengan dua varietas melon, yakni Dalmasian dan Sweet Lavender. Berdasarkan hasil panen pertama, produksinya mencapai kurang lebih dua ton lebih," ungkap Chaerul Ichwan, Minggu (1/11/2026).

Ia menjelaskan, hasil budidaya tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Tingginya minat pembeli terlihat dari konsumen yang datang, tidak hanya dari Desa Tenjoayu dan wilayah Kecamatan Cicurug, tetapi juga dari sejumlah daerah di Kabupaten Sukabumi hingga Bogor.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang pasar yang cukup terbuka untuk dikembangkan lebih luas oleh pengelola BUMDesa.

Chaerul berharap capaian awal tersebut dapat menjadi motivasi sekaligus percontohan bagi BUMDesa lainnya di Kecamatan Cicurug agar lebih kreatif dalam menggali dan mengembangkan potensi ekonomi wilayah masing-masing.

Ia juga mendorong pemanfaatan lahan milik pemerintah desa maupun pemerintah daerah melalui pengelolaan BUMDesa, terutama untuk kegiatan pertanian produktif.

"Bagaimana pemanfaatan lahan-lahan milik pemerintah daerah maupun pemerintah desa yang dikelola melalui BUMDesa untuk budidaya pertanian. Ini salah satu contoh yang bisa kita lihat dan mudah-mudahan semakin berkembang, baik dari sisi produksi maupun ekspansi pendistribusian hasil penjualannya," jelasnya.

BUMDesa Didorong Lebih Kreatif Membaca Peluang Pasar

Lebih lanjut, Chaerul mengingatkan bahwa keberhasilan BUMDesa tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan produksi. Pengelola juga harus memiliki strategi pemasaran, memahami kebutuhan konsumen, serta mampu membaca peluang usaha yang berpotensi memberikan keuntungan berkelanjutan.

Menurutnya, program ketahanan pangan yang menjadi salah satu perhatian pemerintah pada 2026 dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah desa dan BUMDesa.

Ia berharap BUMDesa mampu mengambil peran lebih besar sebagai penggerak ekonomi masyarakat, bukan sekadar lembaga usaha yang berjalan secara administratif.

"Mudah-mudahan rekan-rekan BUMDesa dapat membaca peluang pasar. Bagaimana program pemerintah tahun 2026 terkait ketahanan pangan bisa dikolaborasikan dengan pemerintah desa, sehingga BUMDesa menjadi salah satu pilar ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tegasnya.

Pengawasan dan Transparansi Jadi Kunci Keberlanjutan

Selain pengembangan usaha, Chaerul turut menyoroti pentingnya pengawasan dan akuntabilitas dalam pengelolaan BUMDesa.

Ia menegaskan, setiap kegiatan usaha harus disertai laporan pertanggungjawaban yang jelas. Hasil pelaksanaan kegiatan perlu disampaikan kepada pemerintah desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai bahan evaluasi bersama.

Dengan demikian, perkembangan usaha dapat dipantau secara berkala, sekaligus menjadi dasar untuk memperbaiki kinerja dan meningkatkan profesionalisme pengelola.

"Pengawasan itu menjadi bagian penting. Hasil pelaksanaan kegiatan BUMDesa harus dilaporkan kepada pemerintah desa dan BPD untuk menjadi bahan evaluasi bersama serta perbaikan kinerja ke depan," pungkasnya.

Capaian panen perdana lebih dari 2 ton tersebut menjadi modal awal bagi BUMDesa Tenjoayu Sukses Mandiri untuk memperluas pengembangan usaha budidaya melon.

Ke depan, keberlanjutan produksi, perluasan jaringan pemasaran, serta tata kelola usaha yang profesional menjadi faktor penting agar potensi tersebut tidak hanya menghasilkan produk pertanian, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat.

Melalui pengelolaan potensi lokal yang tepat, BUMDesa diharapkan mampu menjadi salah satu motor penggerak kemandirian ekonomi desa sekaligus membuka peluang kesejahteraan bagi masyarakat.

Reporter: Muhammad Fikri Fauzi

Redaktur: Muhammad Iqbal Abdillah


Camat Cisolok Tekankan Sinergi Lintas Sektor Untuk Bangkitkan Kampung Adat Ciptamulya

  Okih Pazri Assidiq Dorong Percepatan Pemulihan Kampung Adat Ciptamulya Pascakebakaran. (Sumber Foto:  Muhammad Fikri Fauzi). SMartnewsro...

Smart NewsRoom

Informasi

Diberdayakan oleh Blogger.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Label

Tag Utama

Iklan

{getFeatured} $results={5} $label={recent}

JSON Variables